Liburan di Jakarta, Menelusuri Semangat Sumpah Pemuda

Jalan-jalan berfaedah? Sesekali rasanya perlu nih. Loh, berarti selama ini gak berfaedah dong? Enggak juga sih, tapi aku sesekali mau jalan-jalan yang menambah wawasan dan tentunya murah meriah.

Kebetulan banget belum lama ini kan kita baru saja memperingati Sumpah Pemuda. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke museum yang selaras dengan semangat sumpah pemuda?

Loh wisata ke museum? Emang gak ngebosenin? Ternyata enggak kok! Seru, bermanfaat, dan pastinya murah meriah. Mau tahu ke mana saja aku pas jalan-jalan kemarin? Yuk ikuti liputannya!

1. Museum Mohammad Husni Thamrin

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Mohammad Husni Thamrin? Atau lebih akrab dengan sapaan MH Thamrin? Sosok pahlawan nasional asal Jakarta ini, akan menjadi permulaan perjalanan kita dalam memperingati Sumpah Pemuda. Loh kok bisa?

Tujuan pertama aku ke Museum Mohammad Husni Thamrin yang lokasinya dekat banget Pasar Kenari. Kalau naik TransJakarta, aku tinggal turun di Halte Salemba UI dan berjalan sekitar 200 – 300 meter untuk sampai ke museum.

Gedung Museum M. H. Thamrin ini memang tidak bisa lepas begitu saja dari semangat sumpah pemuda. Sejak dibeli oleh Pak M. H. Thamrin dari Meneer Has, gedung ini langsung dihibahkan ke PPPKI (Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) pada tahun 1927.

Di gedung inilah banyak terjadi rapat dan konferensi yang akhirnya melahirkan dan menyuburkan semangat persatuan. Selaras dengan semangat sumpah pemuda. Bahkan ruang tengah di gedung ini memang disengajakan untuk lowong, dimaksudkan agar memudahkan bila para pemuda (dari suku dan perkumpulan apapun) ingin berkoferensi.

Museum M. H. Thamrin ini menyimpan banyak koleksi pribadi dari Pak Mohammad Husni Thamrin. Mulai dari perkakas di rumahnya dahulu (yang berada di Sawah Besar) sampai replika kereta jenazah yang digunakan untuk membawa jenazah beliau saat dimakamkan pada 1941.

Terlihat pula foto di mana banyak orang yang mengantarkan dan mengiringi kereta jenazah ini saat beliau wafat. Hal yang wajar, karena Pak M. H. Thamrin adalah pejabat Volksraad (setara DPR) yang vokal menyuarakan kepentingan rakyat kecil. Terbukti adanya program Penjernihan Kanal Air Minum Pejompongan dan Kampung Thamrin yang digagas beliau sangat menguntungkan rakyat Indonesia saat itu.

Selain koleksi pribadi, Museum M. H. Thamrin juga menceritakan banyak kesenian dan tokoh asal Betawi. Sebagaimana kita ketahui, Pak M. H. Thamrin sendiri memang salah satu pahlawan nasional asal Betawi. Meski beliau memiliki kakek biologis orang Inggris. Di antara tokoh-tokoh yang diceritakan ada Ismail Marzuki, K. H. Noer Ali, sampai K. H. Abdullah Syafe’i.

Hanya itu saja? Tentu tidak! Ada panggung yang didesain sedemikian rupa hingga menyerupai teras depan rumah Pak M. H. Thamrin. Di sini, pengunjung boleh bebas berfoto ya. Sekilas aku merasa seperti di panggung lenong, karena rumah Pak M. H. Thamrin memang terasa Betawi banget!

Ada satu koleksi yang awalnya aku tidak menyangka ada di sini. Replika dari biola W. R. Supratman, penggubah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kok bisa? Jadi sejarahnya, di gedung inilah konsep lagu kebangsaan negeri kita ditulis. Bahkan kabarnya, di gedung ini pula lagu tersebut pertama kali dimainkan.

Sayangnya nilai historis sebesar itu semua, ternyata tidak cukup untuk menarik minat pengunjung datang ke Museum M. H. Thamrin. Dalam setahun, hanya berkisar 1.500 pengunjung yang datang. Itu pun sudah bagus. Padahal tiket masuk museum yang dibuka Selasa – Minggu ini, murah banget. Hanya Rp5.000 untuk pengunjung umum dan Rp2.000 untuk mahasiswa. Katanya sih karena akses menuju museum yang memang sulit dan macet, meski area halaman dan parkir di depan museum sangat memadai untuk pengunjung.

Museum Mohammad Husni Thamrin

Jln. Kenari 2 no. 15 Jakarta Pusat 10430

T : +62 21 3909 148

Buka hari Selasa – Minggu pukul 09.00 – 15.00, hari Senin/Besar tutup.

HTM : Umum Rp5.000, mahasiswa/pelajar Rp2.000

2. Museum Sumpah Pemuda

Tujuan kedua, sudah tentu ke Museum Sumpah Pemuda. Tidak perlu ditanyakan, apa hubungannya dengan Sumpah Pemuda karena gedung tempat museum inilah saksi sejarah di mana keputusan Kongres Pemuda II 1928 dibacakan. Keputusan yang saat ini lebih kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Menuju Museum Sumpah Pemuda sangatlah mudah. Tinggal naik TransJakarta lalu turun di Halte Pal Putih dan jalan kaki sedikit untuk sampai ke museum.

Bangunan yang dulunya kost-kostan mahasiswa itu, merupakan salah satu dari pusat kegiatan dan pergerakan mahasiswa pada zamannya. Dulu daerah Kramat memang strategis, dilalui trem dan banyak terdapat pertokoan. Di gedung yang dulu HGBnya atas nama Sie Kong Liong ini, banyak tinggal tokoh pergerakan. Seperti Moh. Yamin, Amir Sjarifuddin, Soegondo Djojopoespito dan lain sebagainya.

Di museum ini terdapat banyak koleksi dan diorama yang menggambarkan Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II. Setidaknya terdapat lebih dari 2.000 koleksi foto kegiatan organisasi pemuda, 35 koleksi bendera organisasi, sejumlah patung, koleksi kepanduan di ruang Pandu, sampai biola asli milik W. R. Supratman dan piringan hitam di mana dulu lagu Indonesia Raya sempat direkam.

Di museum ini pula terdapat contoh selebaran yang menjadi undangan Kongres Pemuda II serta hasil lengkap dari Kongres Pemuda II. Tentu menjadi hal yang unik ketika aku menyadari, dalam keputusan Kongres Pemuda II sama sekali tidak ada kata “sumpah” meski kita mengenalnya dengan Sumpah Pemuda. Di kongres ini pula persatuan semakin digencarkan dengan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Museum Sumpah Pemuda sendiri cukup ramai pada bulan Oktober dan cenderung sepi pada bulan-bulan lainnya. Padahal biaya masuk museum ini tergolong murah, hanya Rp2.000 per orangnya. Dibuka tiap hari Selasa – Minggu dengan jam operasional Selasa – Kamis, Sabtu – Minggu 08.00 – 16.00 dan hari Jumat pukul 08.00 – 16.30.

Museum Sumpah Pemuda

Jln. Kramat Raya no. 106 Jakarta 10420

T : +62 21 310 3217, +62 21 315 4546

Operasional : Selasa – Kamis, Sabtu – Minggu pukul 08.00 – 16.00

Jumat pukul 08.00 – 16.30

Senin/hari Besar tutup.

HTM : Rp2.000

3. Museum Kebangkitan Nasional

Tujuan terakhir dari jalan-jalan kali ini adalah ke Museum Kebangkitan Nasional. Ada yang tahu di mana? Aku sendiri baru kali ini mengunjungi museum yang dulunya merupakan kampus STOVIA atau dulunya dikenal dengan nama Sekolah Dokter Jawa (sebelum STOVIA pindah ke Salemba).

Menuju Museum Kebangkitan Nasional bisa sih dengan berjalan kaki tapi aku terpaksa memilih naik transportasi daring saja. Soalnya Jakarta panas banget kalau siang hari. Kalau naik TransJakarta, halte TransJakarta terdekat adalah Halte Kwitang. Dari halte ini, cukup berjalan kaki sekitar 3 – 5 menit saja.

Mengapa sih mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional? Ada kaitan apa dengan semangat Sumpah Pemuda? Di gedung inilah berdirinya salah satu organisasi persatuan pertama di Indonesia, yakni Boedi Oetomo.

Seperti kita ketahui, Boedi Oetomo sendiri awalnya didirikan oleh 9 orang mahasiswa STOVIA di mana dr. Soetomo adalah salah seorang penggagasnya. Dipercaya dari berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 inilah yang menjadi titik kebangkitan nasional, mempelopori munculnya perkumpulan-perkumpulan lain di Indonesia. Meski tentu kesimpulan ini bisa didebat secara politis dan historis.

Kembali ke Museum Kebangkitan Nasional yang memiliki banyak koleksi kedokteran awal abad 20. Tentu hal ini dapat dipahami mengingat gedung museum ini dahulunya adalah Sekolah Dokter Jawa yang kemudian menjadi STOVIA.

Di museum ini pula terdapat pelbagai ruangan yang dahulunya digunakan sebagai kelas, asrama, kantin, sampai aula. Di salah satu ruangan ini pula pada hari Minggu 20 Mei 1908, sembilan mahasiswa STOVIA mendirikan Boedi Oetomo.

Secara umum, selain menceritakan tentang dunia kedokteran dan pendidikan di Indonesia awal abad 20, di Museum Kebangkitan Nasional menceritakan tentang Boedi Oetomo dan organisasi perkumpulan lain yang akhirnya membawa kepada pintu gerbang kemerdekaan.

Biaya masuk ke museum yang dibuka hari Selasa – Minggu ini pun tergolong murah, hanya Rp2.000 per orangnya. Waktu operasionalnya sendiri dari pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore.

Museum Kebangkitan Nasional

Jln. Dr. Abdul Rahman Saleh no. 26 Jakarta Pusat 10410

T : +62 21 3483 00033, +62 21 3847975

Operasional : Selasa – Minggu, pukul 08.00 – 16.00. Hari Senin/Besar tutup.

HTM : Rp2.000

Jadinya …

Bagaimana? Seru bukan jalan-jalan menelusuri semangat sumpah pemuda di Jakarta? Bonusnya nih, dari Museum Sumpah Pemuda atau Museum Kebangkitan Nasional, kita bisa mampir sejenak ke Es Krim Baltic yang sudah berdiri sejak 1939. Harganya pun murah, Rp6.000 untuk es krim stik dan Rp7.000 untuk es krim dalam cup dengan pelbagai rasa.

Kalau malas untuk jalan-jalan sendirian, bisa kontak @jktgoodguide yang kerap mengadakan tour serupa dan tour di ibukota lainnya. Bisa langsung cek instagramnya dan untuk biaya tidak perlu dipikirkan karena konsep @jktgoodguide sendiri adalah “Pay as you wish“. Menarik bukan?

Akhirnya keturutan juga nih jalan-jalan di Jakarta lagi. Terima kasih banget Archipelago International yang sudah mengajak untuk jalan-jalan menelusuri semangat Sumpah Pemuda. Kalau kamu, kapan nih rencana jalan-jalan kayak aku begini? Yuk direncanakan dan lestarikan sejarah budaya kita sendiri!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: